Rabu, 18 Maret 2020

KENALI CORONA DAN LAKUKAN PENCEGAHAN


Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.
Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui.  Corona virus menyerang siapa saja namun risiko lebih besar pada orang dengan daya tahan tubuh lemah, misal anak kecil dan orang tua. Serangan coronavirus pada orang dengan sistem imun lemah bisa mengakibatkan infeksi saluran pernapasan bawah yang lebih serius. Penyakit akibat infeksi saluran pernapasan bawah adalah pneumonia atau bronkitis.

MERS, SARS, dan coronavirus Wuhan hingga sekarang lebih sering ditemukan pada orang tua meski riset masih terus dilakukan. Pasien coronavirus Wuhan kebanyakan berusia lebih dari 40 tahun dan belum ditemukan pada anak-anak.
Hasil gambar untuk corona
Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia.
Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Gejala Virus Corona

Infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu, seperti demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala; atau gejala penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada.
Namun, secara umum ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:
Menurut penelitian, gejala COVID-19 muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah terpapar virus Corona.

Penyebab Virus Corona

Infeksi virus Corona atau COVID-19 disebabkan oleh coronavirus, yaitu kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Pada sebagian besar kasus, coronavirus hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu. Akan tetapi, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti pneumonia, Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Ada dugaan bahwa virus Corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, kemudian diketahui bahwa virus Corona juga menular dari manusia ke manusia.
Seseorang dapat tertular COVID-19 melalui berbagai cara, yaitu:
  • Tidak sengaja menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk penderita COVID-19
  • Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan air liur penderita COVID-19
  • Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19, misalnya bersentuhan atau berjabat tangan.

Komplikasi Virus Corona

Pada kasus yang parah, infeksi virus Corona bisa menyebabkan beberapa komplikasi serius berikut ini:

Pencegahan Virus Corona

Sampai saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus Corona atau COVID-19. Oleh sebab itu, cara pencegahan yang terbaik adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa menyebabkan Anda terinfeksi virus ini, yaitu:
Hasil gambar untuk corona
  • Hindari bepergian ke tempat-tempat umum yang ramai pengunjung.
  • Gunakan masker saat beraktivitas di tempat umum atau keramaian.
  • Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 60% setelah beraktivitas di luar rumah atau di tempat umum.
  • Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan.
  • Hindari kontak dengan hewan, terutama hewan liar. Bila terjadi kontak dengan hewan, cuci tangan setelahnya.
  • Masak daging sampai benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
  • Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu ke tempat sampah.
  • Hindari berdekatan dengan orang yang sedang sakit demam, batuk, atau pilek.
  • Jaga kebersihan benda yang sering disentuh dan kebersihan lingkungan.
Obat coronavirus
Hingga saat ini belum ada obat spesifik untuk corona virus atau virus corona, namun riset terus dilakukan seiring masifnya serangan virus. Gejala coronavirus bisa hilang sendiri bila ditangani sejak dini. Jika gejala dirasakan makin buruk maka harus segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan secepatnya.
Dokter bisa menangani gejala coronavirus dengan meresepkan pengobatan demam dan nyeri. CDC mengatakan, humidifier dan mandi air hangat bisa membantu meredakan batuk dan sakit tenggorokan. Selain itu pastikan minum air putih, istirahat, dan tidur untuk memulihkan kondisi tubuh.
Dengan penyebab dan obat yang belum ada, maka sangat disarankan melakukan upaya pencegahan menghadapi corona virus. Misal tidak kontak langsung dengan pasien kecuali dalam kondisi tertentu. Usai kontak dengan pasien, pastikan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum menyentuh diri sendiri. Jika harus bepergian ke daerah yang terinfeksi virus corona di Wuhan disarankan menghindari pasar hewan, menutup hidung dan mulut, dan segera ke dokter bila merasakan penurunan kondisi tubuh.

Senin, 27 Januari 2020

KEBIASAAN BAIK UNTUK KESEHATAN YANG BERPENGARUH PADA PSIKOLOGI



Ada beberapa tips yang saya rangkum untuk kalian nih, bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari dan mudah loh....

1. Tidur Tujuh sampai Delapan Jam Setiap Hari

Supaya bisa beraktivitas secara efektif dan produktif, manusia membutuhkan delapan jam waktu untuk tidur yang berkualitas setiap malamnya. Namun, bagi beberapa orang mungkin membutuhkan waktu lebih atau kurang dari delapan jam. Temukan jam tidur yang sesuai dengan kondisi tubuhmu, agar bisa mengatur kegiatan harianmu dengan lebih baik dan badanmu selalu fit.

2. Sarapan Setiap Hari

Kebiasaan melewatkan sarapan bisa berakibat buruk bagi tubuh, seperti dosis harian terhadap vitamin dan nutrisi yang jadi sulit untuk diperoleh tubuh. Orang yang terbiasa sarapan cenderung memiliki pola makan sehat secara keseluruhan. Apabila rutin dilakukan setiap hari, sarapan bisa memberikan asupan nutrisi yang banyak dan lengkap untuk menemani beraktivitas seharian.
Jenis makanan sehat yang sebaiknya dikonsumsi saat sarapan adalah yang memiliki kandungan biji-bijian utuh seperti sereal gandum utuh. Jenis makanan lain seperti buah-buahan, sayur-sayuran, protein yang didapat dari selai kacang, daging tanpa lemak, ayam, ikan, telur rebus, dan sedikit lemak dari keju atau susu rendah lemak juga sangat direkomendasikan. Kombinasi karbohidrat kompleks, serat, protein, dan sedikit lemak tersebut bermanfaat bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan dan membuat kamu kenyang lebih lama.

3. Kurangi Kebiasaan Ngemil di Malam Hari

Kebiasaan ngemil di malam hari bisa juga memberikan pengaruh negatif bagi kinerja otak, khususnya dalam menyimpan memori jangka panjang dan kemampuan berpikir seseorang secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan bila kamu ngemil di malam hari bisa mengacaukan siklus tidur dan bangun yang akan memberikan pengaruh negatif bagi kesehatan dan fungsi kognitif.
Kebiasaan ngemil malam serta kebiasaan sering menunda makan adalah salah satu pengganggu siklus tidur dan bangun. Selain itu, paparan cahaya di malam hari atau melakukan latihan kardiovaskular yang berat saat mendekati jam tidur juga sebaiknya dihindari demi kualitas tidur yang baik.

4. Tidak Merokok

Siapa yang tidak mengetahui jika rokok hanya merugikan siapapun yang menghirup asapnya dan berdampak negatif bagi kesehatan seperti penyakit kanker, jantung, stroke, keguguran pada ibu hamil, dan lain sebagainya. Mulailah berhenti merokok sekarang juga demi hidup yang lebih sehat.

5. Tidak Mengkonsumsi Alkohol

Sama halnya dengan merokok, konsumsi minuman beralkohol akan menimbulkan dampak negatif untuk kesehatan tubuh. Minuman ini akan mengubah kinerja otak dan refleks pada tubuh, juga memicu terjadinya obesitas dan kecanduan. Namun, dalam hubungannya dengan jantung, alkohol bisa berakibat baik atau buruk laiknya obat-obatan. Ini tergantung pada seberapa banyak kamu mengonsumsinya.
6. Afirmasi/Visualisasi
Luangkan waktu lima menit, dua kali dalam sehari untuk mengafirmasi atau meyakinkan kembali apa tujuan hidup, mimpi-mimpi dan keinginan diri sendiri. Banyak orang tak berhasil mencapai tujuannya karena terlalu malas, lelah, letih, merasa kurang berbakat. Namun pada dasarnya, tujuan dalam hidup haruslah diingatkan terus atau divusialisasikan ulang untuk diri sendiri.


7. Pergi Keluar
Meskipun hanya 10 menit dalam sehari, luangkanlah waktu untuk duduk atau berjalan di ruang terbuka. Sebaiknya yang dikelilingi pepohonan dan udara segar. Hal ini secara instan akan mengangkat sedikit banyak tingkat stress dalam pikiran dan mengisi kembali energi dalam tubuh.

8. Olahraga

Hasil gambar untuk olahraga
Tubuh adalah penggerak segala aktivitas Anda. Jika tidak dirawat kesehatannya atau menurun kondisinya, penyakit akan mudah menyerang. Alhasil aktivitas tehambat dan memperngaruhi performa kerja. Selalu luangkan waktu untuk berolahraga, makan makanan yang sehat agar berkarya dalam kehidupan ini semakin prima.

9. Meditasi
Kemajuan yang dialami seseorang selalu datang dan dimulai dari diri sendiri. Segala hal negatif yang ada di sekitar kita jangan sampai merusak kesehatan mental secara perlahan. Luangkan waktu untuk diri sendiri dengan cara meditasi. 30 menit dalam sehari adalah waktu ideal, terutama sebelum tidur. Jika hal tersebut terasa terlalu banyak menyita waktu Anda, dua menit sehari juga cukup.

10. Senyum

Hasil gambar untuk senyum
Meskipun terdengar klise, tapi senyuman selalu dapat mengubah dunia menjadi lebih positif. Tak hanya baik untuk diri sendiri, namun juga orang lain. Lupakan anggapan miring tentang memberikan senyum kepada orang lain dan rasakan manfaatnya menularkan aura positif kepada orang lain untuk diri sendiri. Senyum yang tulus datang dari dalam hati dan jika masih terasa kaku, latihlah di depan cermin.

11. Menyapa Orang
Terdengar sepele, namun menyapa banyak orang dengan sapaan standar seperti ‘Selamat Pagi’ akan meningkatkan kepercayaan diri sekaligus meningkatkan aspek sosial. Keluarlah dari zona nyaman yang selalu berdiam diri dan menunggu disapa orang lain terlebih dahulu karena gengsi, dan cobalah untuk menyapa ramah orang lain. Jika respon orang lain negatif, itu urusan mereka yang berperilaku negatif. Tetaplah menjadi orang yang positif.
Menyapa hanya dengan sekedar menganggukkan kepala, tersenyum atau mengucapkan salam bukan hal sulit bukan? tapi sangat menyenangkan...

12. Jujur
Saat seseorang berbohong, perlahan ia merusak stabilitas emosi diri sendiri dan membentuk sebuah pola mental yang sakit. Menjadi seorang yang jujur selalu dimulai dari diri sendiri, seperti menentukan pilihan ataupun berinteraksi dengan orang terdekat.
Usahakan selalu jujur ya teman-teman, pasti akan sanagat sakit jika anda sudah percaya pada orang tapi orang tersebut tidak jujur pada kita....

13. Bersenang-senang
Carilah hobi positif yang bisa membuat Anda bahagia dan terus bahagia. Sesederhana memilih olahraga yang paling digemari, hobi yang membuat Anda melupakan segala kepenatan, hingga kebiasaan saat masih kanak-kanak yang tak lagi dilupakan seiring tumbuh dewasa. Jangan malu untuk tertawa lepas, melakukan kesalahan hingga bersikap kekanakan. Tak ada manusia yang sempurna dan semua orang hanya ingin hidup damai dan bahagia.

Bagaimana? mudah kan... selamat menerapkan kebiasaan diatas!!!!

Senin, 20 Januari 2020

GANGGUAN PSIKOLOGI YANG BISA SAJA KITA ALAMI


Nah, teman-teman semua... kali ini saya akan menyampaikan beberapa gangguan psikologis nih. Keadaan ini sebenarnya sulit untuk kita sadari, hal ini berada di luar kendali kita. Berikut ini diagnosis gangguan psikologi secara umum :
Hasil gambar untuk gangguan psikologis"

1. Gangguan Panik
Hal ini ditandai dengan serangan panik yang merupakan manifestasi fisik dari rasa takut. Gangguan panik dapat terjadi setiap saat. Gangguan panik bisa diobati dengan terapi perilaku kognitif. Meskipun, beberapa orang memerlukan obat-obatan untuk membantu mengendalikan serangan panik mereka.

Gejala Gangguan Panik

Gejala gangguan ini umumnya mulai dialami di akhir masa remaja atau di awal usia dewasa. Dan ada lebih banyak wanita yang mengidap gangguan ini dibandingkan pria. Namun, tidak setiap orang yang mengalami serangan panik akan mengembangkan gangguan panik. Seseorang mungkin memiliki gangguan panik jika sering mengalami serangan panik di waktu yang tidak terduga dan tanpa pemicu yang jelas.

Penyebab Gangguan Panik

Dalam beberapa kasus, gangguan panik dicurigai diturunkan secara genetik. Namun, belum ada penelitian yang mampu membuktikan kenapa gangguan ini bisa diturunkan pada salah satu atau beberapa anggota keluarga saja, tetapi tidak pada anggota keluarga yang lainnya.
Penelitian menemukan bahwa terdapat bagian otak tertentu dan proses biologi yang memegang peranan kunci dalam mengatur perasaan takut dan kecemasan. Beberapa ahli menilai, pengidap gangguan panik memiliki kekeliruan dalam menginterpretasikan gerakan atau sensasi tubuh yang sebenarnya tidak membahayakan, namun dianggap sebagai suatu ancaman. Selain itu, faktor dari luar seperti faktor lingkungan juga dianggap menjadi pemicu gangguan panik.

Faktor Risiko Gangguan Panik

Berikut ini faktor-faktor risiko yang dapat menjadi pemicu gangguan panik:
  • Stres merupakan pemicu paling utama;
  • Riwayat kesehatan keluarga;
  • Kejadian traumatis yang pernah dialami, seperti kecelakaan atau sakit keras;
  • Perubahan drastis dalam hidup, seperti bercerai atau memiliki anak;
  • Mengonsumsi kafein dan nikotin yang terlalu berlebihan; dan
  • Riwayat mengalami kekerasan fisik atau seksual.

Diagnosis Gangguan Panik

Diagnosis gangguan panik, seperti yang tertulis di dalam Buku Manual Diagnosis dan Statistik dari Gangguan Mental (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder/DSM-5), penting untuk mengenyampingkan penyebab lain atau kondisi-kondisi yang mirip dengan gangguan panik. Menurut DSM-5, dalam mendiagnosis gangguan panik, terdapat beberapa poin penting yang berupa:
  • Gangguan panik ditandai dengan serangan panik yang cukup sering terjadi.
  • Gangguan panik dengan serangan panik yang bukan disebabkan efek pemakaian obat-obatan ataupun karena penyakit.
  • Gangguan panik tidak berhubungan dengan dengan gangguan mental lainnya, seperti fobia tertentu seperti fobia sosial, gangguan kecemasan, post-traumatic stress disorder, hingga gangguan obsesif kompulsif.
Untuk diagnosis awal, dokter akan memastikan apakah seseorang mengidap gangguan hormon tiroid atau penyakit jantung dari gejala-gejala yang timbul saat serangan panik. Untuk membantu menegakkan diagnosis gangguan panik, dokter akan melakukan pemeriksaan berupa:
  • Pengisian kuesioner atau diskusi mengenai riwayat penyalahgunaan minuman beralkohol atau zat-zat lainnya.
  • Evaluasi status mental mengenai gejala-gejala gangguan panik yang sedang dialami, kecemasan, ketakutan, stres, masalah pribadi, kondisi yang sedang menimpa, serta riwayat kesehatan.
  • Pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
  • Tes darah untuk mengecek fungsi tiroid dan pemeriksaan rekam jantung (elektrokardiografi).
  • Komplikasi

Pada gangguan panik yang tidak tertangani dengan baik, akan membuat kondisi pengidap makin memburuk dan menimbulkan sejumlah masalah lain, seperti depresi, kecanduan alkohol atau penyalahgunaan NAPZA, menjadi antisosial, serta timbul masalah di sekolah atau tempat kerja, hingga masalah keuangan.

Pengobatan Gangguan Panik

Cara terbaik untuk mengatasi gangguan panik adalah dengan perawatan medis oleh dokter atau ahli kesehatan mental. Temui dokter yang sudah berpengalaman menangani masalah serupa. Beritahukan apa saja gejala yang pengidap rasakan.
Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan dan bertanya tentang riwayat kesehatan untuk memastikan apakah ada penyakit yang mungkin jadi penyebab dari gejala gangguan panik itu. Apabila tidak ditemukan penyakit atau masalah kesehatan yang terkait, beliau mungkin akan merujuk pengidap kepada seorang ahli kesehatan mental, seperti psikiater atau psikolog.
Cara mengatasi gangguan panik biasanya melalui psikoterapi, konsumsi obat, atau keduanya. diskusikanlah dengan dokter untuk menemukan perawatan yang terbaik sesuai kondisi.

Pencegahan Gangguan Panik

Belum ada cara yang secara signifikan dapat mencegah terjadinya gangguan panik. Namun, ada beberapa tindakan yang bisa kita lakukan untuk mengurangi gejala-gejala yang terjadi. Di antaranya:
  • Hindari jenis-jenis makanan atau minuman manis, mengandung kafein, atau beralkohol;
  • Berhenti merokok dan tidak menyalahgunakan NAPZA;
  • Melakukan aktivitas menyehatkan, seperti berolahraga;
  • Mencukupi kebutuhan tidur dan istirahat;
  • Latihan manajemen stres dan teknik relaksasi, misalnya dengan melakukan teknik pernapasan dalam dan panjang, yoga, atau melemaskan otot-otot; dan
  • Bergabung bersama komunitas yang memiliki permasalahan yang sama. Hal ini untuk menciptakan kesadaran, pemahaman, hingga membiasakan diri untuk menangani kepanikan.

2. Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah istilah umum yang mencakup berbagai gangguan mental, termasuk gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca-trauma, dan gangguan kecemasan umum. Gangguan obsesif kompulsif ditandai dengan pikiran yang berulang dan tindakan berulang yang sering dilakukan untuk kontrol diri. Bila parah, gangguan obsesif kompulsif dapat mendominasi kehidupan seseorang. Gangguan stres pasca-trauma , terjadi setelah pengalaman mengerikan. Paling sering dikaitkan dengan veteran perang; gangguan stres pasca-trauma juga terjadi pada orang yang telah hidup melalui bencana alam, kecelakaan yang mengerikan, serta pengalaman yang sangat traumatis lainnya. Gangguan kecemasan umum adalah penyakit kecemasan lain dan didiagnosis 6 bulan merasa khawatir yang berlebihan dan stres. Semua gangguan kecemasan ini dapat disembuhkan, tetapi memerlukan terapi intensif tergantung pada keparahan.

Gejala Gangguan Kecemasan Umum

Gangguan kecemasan umum memiliki gejala yang sangat beragam. Gejala dari kondisi ini bisa memengaruhi penderitanya, baik secara psikologis maupun fisik. Beberapa gejala yang berkaitan dengan psikologis di antaranya adalah:
  • Senantiasa cemas, bahkan untuk hal sepele.
  • Resah dan tidak bisa tenang.
  • Ketakutan, terutama dalam memutuskan sesuatu.
  • Selalu tegang.
  • Uring-uringan.
  • Sulit konsentrasi.
Sedangkan gejala yang berkaitan dengan kesehatan fisik meliputi:
  • Kelelahan.
  • Sakit kepala.
  • Mual.
  • Diare.
  • Sakit perut.
  • Otot-otot yang nyeri akibat selalu tegang.
  • Detak jantung yang cepat.
  • Gemetaran.
  • Mulut kering.
  • Napas pendek.
  • Mudah terkejut.
  • Keringat berlebihan.
  • Insomnia
Rasa cemas merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada semua orang. Namun apabila seseorang selalu mengkhawatirkan segala sesuatu dan kecemasannya tidak kunjung hilang sampai berdampak pada kehidupannya sehari-hari, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter agar dapat ditangani dengan tepat.

Faktor Risiko Gangguan Kecemasan Umum

Penyebab di balik gangguan kecemasan umum belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Para pakar menduga kondisi ini dapat terjadi akibat kombinasi dari sejumlah faktor, contohnya:
  • Pernah mengalami trauma, misalnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta perundungan (bullying).
  • Adanya aktivitas berlebihan dari bagian otak yang mengendalikan emosi dan tingkah laku.
  • Senyawa serotonin dan noradrenalin yang tidak seimbang dalam otak penderita.
  • Faktor keturunan. Orang yang memiliki kerabat dekat dengan gangguan kecemasan umum memiliki risiko 5 kali lebih besar untuk mengalami kondisi sejenis.
  • Jenis kelamin. Wanita juga dipercaya lebih rentan untuk menderita gangguan ini.
  • Pernah menggunakan obat-obatan terlarang atau mengonsumsi minuman keras.

Diagnosis Gangguan Kecemasan Umum

Gangguan kecemasan umum biasanya sulit dikenali, terutama karena gejalanya yang cenderung mirip dengan gangguan psikologis lain. Karena itu, banyak pakar menggunakan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) guna mendiagnosis gangguan ini. Kriteria DSM-5 untuk gangguan kecemasan meliputi:
  • Hampir setiap hari mengalami kecemasan berlebihan dalam jangka waktu setidaknya 6 bulan.
  • Sulit mengendalikan perasaan cemas.
  • Rasa cemas yang mendominasi dan memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan.
  • Mengalami 3 gejala di antara uring-uringan, kelelahan, gelisah, otot tegang, atau insomnia bagi orang dewasa, dan 1 di antara gejala-gejala tersebut bagi anak-anak.
  • Kecemasan yang tidak berkaitan dengan kondisi psikologis lain (seperti PTSD atau serangan panik), penyakit tertentu, maupun penggunaan obat-obatan terlarang.

Pengobatan Gangguan Kecemasan Umum

Terdapat 2 langkah utama dalam menangani gangguan kecemasan umum, yaitu melalui terapi psikologis dan obat-obatan. Kedua langkah ini biasanya akan dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan pasien.
Terapi perilaku kognitif (CBT) merupakan metode yang paling efektif dalam menangani gangguan kecemasan umum. Melalui terapi ini, penderita akan mengenali dan memahami dampak masalah, perasaan, dan perilakunya terhadap satu sama lain. Teknik-teknik khusus untuk mengatasi kecemasan juga akan diajarkan dalam CBT, misalnya teknik merelaksasikan otot yang tegang dengan cepat saat berada dalam situasi pemicu kecemasan.
Di samping terapi, obat-obatan mungkin dianjurkan guna mengobati gangguan kecemasan umum. Diskusikanlah dengan dokter mengenai jenis obat yang cocok untuk kondisi Anda, contohnya durasi pengobatan yang akan dijalani serta efek sampingnya. Beberapa jenis obat yang biasanya diberikan meliputi:
  • Antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) atau serotonin and noradrenaline reuptake inhibitor (SNRI). Ini merupakan obat yang paling umum dalam pengobatan gangguan kecemasan umum.
  • Pregabalin. Obat ini tergolong sebagai antikonvulsan yang biasanya digunakan untuk menangani epilepsi.
  • Benzodiazepine. Obat yang masuk ke dalam golongan sedatif ini sebaiknya dihindari oleh pasien yang mengonsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang.
Selain dengan penanganan medis, penderita gangguan kecemasan umum bisa melakukan hal-hal berikut secara mandiri untuk meringankan gejala yang dialaminya:

  • Berolahraga dengan teratur.
  • Melakukan teknik relaksasi, seperti yoga.
  • Menghindari kafein, merokok, dan konsumsi minuman keras.
3. Gangguan Bipolar
Hasil gambar untuk bipolar"
Gangguan bipolar adalah penyakit mental yang dapat mengganggu kehidupan penderita dan dapat merusak hubungan. Salah satu gejala khas dari gangguan ini adalah perubahan suasana hati pada titik ekstrim yang terlalu tinggi dan terlalu rendah. Sayangnya, bunuh diri merupakan resiko yang sangat nyata bagi orang-orang dengan gangguan bipolar ketika mereka berada dalam keadaan depresi. Untuk mengobati penyakit ini, obat untuk menstabilkan suasana hati sering dikombinasikan dengan terapi.

Penyebab Gangguan Bipolar

Penyebab pasti terjadinya gangguan bipolar belum diketahui. Namun, terdapat dugaan bahwa gangguan bipolar merupakan dampak dari adanya gangguan pada senyawa alami yang berfungsi menjaga fungsi otak (neurotransmitter). Gangguan pada neurotransmitter itu sendiri diduga dipicu oleh beberapa faktor, seperti:
  • Genetik
  • Sosial
  • Lingkungan
  • Fisik

Pengobatan Gangguan Bipolar

Dalam menangani gangguan bipolar, dokter akan menganjurkan penggunaan obat atau terapi khusus. Untuk menentukan metode yang tepat, pasien perlu melakukan pemeriksaan secara langsung ke dokter.
Gangguan bipolar yang tidak mendapatkan penanganan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan penderitanya, seperti:

  • Performa di sekolah atau tempat kerja memburuk
  • Kecanduan alkohol hingga penyalahgunaan NAPZA
  • Rusaknya hubungan sosial, misalnya dengan pasangan, kerabat, atau orang lain
  • Permasalahan keuangan (finansial)
  • Menimbulkan keinginan hingga percobaan bunuh diri
4. Fobia
Fobia adalah ketakutan yang mengganggu kegiatan sehari-hari dan menyebabkan gejala fisik yang parah. Hal yang menarik tentang fobia adalah orang dapat memiliki fobia tentang apa pun, meskipun beberapa fobia jauh lebih umum daripada yang lain. Salah satu fobia yang lebih umum adalah gangguan kecemasan sosial, dimana orang menjadi takut situasi bersosialisasi sehari-hari. Terapi eksposur sering digunakan untuk membantu orang mengatasi ketakutan mereka.

Penyebab Fobia

Fobia disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Seseorang lebih berisiko mengidap fobia jika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan kecemasan. Peristiwa traumatis, seperti tenggelam, digigit hewan, terjebak dalam lift, dan lainnya juga bisa menyebabkan fobia.

Gejala Fobia

Fobia tak hanya ditandai dengan gejala psikis seperti rasa takut saja, sebab fobia juga bisa menyebabkan pengaruh pada kondisi fisik. Berikut beberapa gejala fisik yang bisa dialami pengidap fobia.
  • Disorientasi atau bingung.
  • Pusing dan sakit kepala.
  • Dada terasa sesak dan nyeri.
  • Sesak napas.
  • Detak jantung meningkat.
  • Tubuh gemetar dan berkeringat.
  • Telinga berdengung.
  • Sensasi ingin selalu buang air kecil.
  • Mulut terasa kering.

Diagnosis Fobia

Untuk mendiagnosis fobia, dokter akan melakukan wawancara medis seputar gejala yang dirasakan oleh pengidapnya. Gejala ini nantinya akan disesuaikan oleh dokter, mengarah atau tidaknya pada kondisi fobia. Di samping itu, untuk menegakkan diagnosisnya, dokter juga akan bertanya seputar riwayat penyakit yang pernah dialami pengidapnya (termasuk penyakit kejiwaan), kehidupan sosial pasien, hingga riwayat pengunaan obat-obatan.

Komplikasi Fobia

Fobia yang tak ditangani dengan efektif bisa menyebabkan beberapa komplikasi pada pengidapnya. Mulai dari mengurung diri (isolasi sosial), perubahan suasana hati yang drastis atau gangguan kecemasan, penyalah gunaan alkohol atau obat, hingga bunuh diri.

Pengobatan Fobia

Untuk mengatasi fobia, biasanya dokter akan menggunakan obat-obatan dan psikoterapi. Psikoterapi bisa berupa terapi eksposur untuk mengubah sudut pandang terhadap subjek atau situasi menakutkan dan cognitive behavioral therapy (CBT) yang menggabungkan terapi eksposur dengan terapi lain. CBT lebih ditekankan pada cara mengendalikan pikiran dan perasaan. Selain itu, pengobatan fobia juga bisa melalui pemberian obat-obatan yang  diharapkan mampu mengurangi gejalanya.

Pencegahan Fobia


Sebenarnya belum ada cara yang ampuh untuk mencegah fobia. Namun, bila memiliki fobia spesifik contohnya, cobalah pertimbangkan untuk meminta bantuan ahli psikologis, apalagi jika pengidapnya sudah memiliki anak. Pasalnya, faktor genetika cenderung berperan dalam pengembangan fobia spesifik. Di samping itu, seorang anak yang berulang kali melihat reaksi fobia orangtuanya, bisa terpengaruh atau mengembangkan fobia spesifik pada dirinya.
Nah, hampir setiap orang punya nih. Kalau saya sendiri punya fobia pada laba-laba dan ular. Bagaimana demgam anda? 
5. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Orang dengan ADHD mengalami kesulitan fokus dan mengendalikan perilaku mereka. Ini bisa menjadi gangguan yang sangat sulit untuk didiagnosa. Sebelum diagnosis resmi, masalah lain harus disingkirkan terlebih dahulu, seperti penglihatan atau pendengaran. Sementara obat yang sering diresepkan untuk ADHD, terapi perilaku adalah salah satu perawatan yang paling penting. Jenis terapi membantu orang dengan ADHD mempelajari alat-alat yang akan membantu mereka fokus, tetap terorganisir, dan mengendalikan perilaku mereka.
6. Gangguan Mood
Orang dengan gangguan mood cenderung melihat sesuatu dari perspektif yang sangat suram. Salah satu gangguan mood yang paling sering didiagnosis adalah depresi. Orang yang mengalami depresi memiliki perasaan sedih yang terus-menerus dan putus asa, dan mereka cenderung kehilangan minat dalam hidup. Tergantung pada tingkat keparahan, depresi bisa sangat melemahkan dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Namun, ini bisa diobati, khususnya melalui terapi dengan kebutuhan yang memungkinkan untuk pengobatan pada kasus yang berat.
7. Gangguan Kepribadian
Salah satu gangguan lainnya adalah gangguan kepribadian avoidant, yang ditandai dengan kecemasan, takut akan kritik, dan menjadi ragu-ragu untuk terlibat dengan orang lain. Gangguan kepribadian borderline adalah diagnosis lain. Orang dengan gangguan kepribadian ini bisa sangat tidak stabil dan impulsif. Mereka juga cenderung membuat ancaman atau usaha bunuh diri, yang membuat gangguan ini sangat serius untuk ditangani. Gangguan kepribadian sering terjadi dengan penyakit mental lainnya, yang membuat mereka sangat sulit untuk didiagnosa dan diobati.
Gangguan kepribadian dibagi menjadi tiga kelompok:
  • Kelompok A adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan keanehan atau keesentrikan perilaku seseorang. Kata kunci utamanya adalah fantasi—yaitu, penderitanya cenderung membentuk dunia atau situasi yang jauh dari realita. Beberapa gangguan yang berada pada kelompok A adalah paranoia, skizofrenia, dan skizotipal. Karena penderitanya memiliki keyakinannya sendiri dan hidup pada dunia ynag berbeda dari kenyataan, yang pada akhirnya mereka sulit untuk membentuk suatu hubungan.
  • Kelompok B merujuk pada gangguan kepribadian yang ditandai dengan kesulitan dalam mengendalikan perasaannya sendiri. Oleh karena itu perilaku mereka tidak dapat diprediksi, dan kurangnya pengedendalian perasaan mereka terkadang dapat membuat mereka merespon secara berlebihan ketimbang orang lain dalam situasi tertentu. Contohnya adalah orang-orang yang antisosial dan narsis.
  • Kelompok C merujuk pada gangguan kepribadian yang ditandai dengan peningkatan perasaan, ketakutan, dan kecemasan, yang mengambil kendali atas emosi, pikiran, dan perilaku mereka sendiri. Contohnya adalah orang yang suka menghindar, mengalami gangguan obsesif kompulsif, dan terlalu bergantung.

Penyebab Kondisi Gangguan Kepribadian

Tidak jelas bagaimana gangguan kepribadian muncul pada sebagian orang, namun ada banyak teori berkaitan dengan hali ini.
Pertama, penderitanya mungkin telah mengalami suatu peristiwa dalam hidupnya yang mengubah hidupnya, menimbulkan trauma, atau sangat berpengaruh. Peristiwa ini biasanya dialami pada saat penderitanya masih muda karena kepribadian mulai berkembang pada usia dini. Misalnya, seseorang yang telah ditinggalkan oleh orang tuanya mungkin akhirnya memiliki gangguan kepribadian terlalu bergantung atau kebutuhan ekstrim untuk mendapatkan cinta dan perhatian. Penderitanya takut merasa ditinggalkan dan dengan demikian akan sering melakukan apapun untuk menjaga orang di sekitarnya, termasuk terlalu patuh pada pasangannya.
Teori lainnya adalah genetika mungkin memiliki peran besar. Misalnya, banyak penelitian menghubungkan gejala skizofrenia dengan genetika. Orang yang memiliki kerabat tingkat pertama yang didiagnosis dengan gangguan ini memiliki 55% risiko lebih besar daripada masyarakat pada umumnya. Sementara itu, setidaknya setengah kasus depresi klinik berkaitan dengan faktor keturunan.
Gen dapat mempengaruhi cara otak bekerja. Gen mungkin mencegah pengiriman informasi yang tepat, yang kemudian menghasilkan ide, pikiran, atau perilaku seseorang yang berbelit-belit.
Namun, memiliki kerabat dengan gangguan menta atau kepribadian tidak berarti orang tersebut juga akan memiliki gangguan tersebut. Namun kemungkinannya akan tetap tinggi.

Gejala Utama Gangguan Kepribadian

Gejala gangguan kepribadian dapat bervariasi tergantung pada kelompoknya atau masalah mental tertentu. Beberapa gejala umumnya termasuk:
  1. Merasa takut dan cemas secara berlebih
  2. Obsesi lebih pada objek, peristiwa, atau orang tertentu
  3. Paksaan untuk melakukan sesuatu berulang-ulang atau bahkan melawan keinginan sendiri
  4. Merasa tidak berharga dan rasa bersalah
  5. Tingkat stres yang tinggi
  6. Ketidakmampuan mengatasi stres
  7. Kesulitan dalam memahami kepribadian orang lain
  8. Merasa tidak layak dalam pergaulan sosial (menyendiri atau menarik diri)
  9. Berisiko menyakiti diri sendiri termasuk melukai tubuh dan bunuh diri
  10. Mudah marah yang tidak terkontrol atau tidak masuk akal
  11. Terlalu tergantung pada orang lain
  12. Kesulitan dalam menerima kritik atau saran
  13. Perilaku yang eksentrik
  14. Paranoid
Beberapa orang menunjukan gejala gangguan kepribadian yang sangat ringan, sehingga sulit bagi mereka untuk mendapatkan diagnosis. Di sisi lain, sebagian orang lainnya memiliki tanda ekstrim hingga mereka terkadang dapat menjadi ancaman bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

Stres umumnya dapat memperburuk gejala gangguan kepribadian. Umumnya pasien juga memiliki gangguan mental yang kompleks. Misalnya, orang dengan gangguan kepribadian avoidant atau suka menghindar dapat didiagnosis dengan depresi.


Apakah kalian sedang mengalami salah satu dari gangguan tersebut? Atau pernah mengalami? Aku berharap apa yang saya sampaikan dapat berguna bagi anda.

Selasa, 14 Januari 2020


YUK! KENALI DAN DALAMI APA ITU  PSIKOLOGI



          Secara singkatnya sebagian besar dari kalian mungkin tahu apa itu psikologi. Berasal dari bahasa Yunani yang diambil dari kata “psyche” berarti jiwa, dan “logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi, psikologi secara singkatnya adalah ilmu tentang kejiwaan. Secara umum psikologi mempelajari mengenai segala sesuatu tentang kejiwaan meliputi gejalanya, prosesnya, penyababnya, dan cara mengatasinya.


           Ilmu psikologi kerap kali digunakan untuk menyelasaikan masalah atau mencari solusi, hal ini mengacu pada permasalahan sosial. Menurut pengalaman dan pengamatan saya sendiri, tidak banyak orang yang peduli akan keaadan psikologis orang lain. Hal tersebut sebenarnya bisa menimbulkan suatu masalah yang tidak bisa dikatakan kecil.  Seperti contohnya, anda melampiaskan kemarahan kepada orang yang salah, ketidak pedulian kita akan perasaan orang lain tanpa sadar membuat kita berlaku semena-mena pada orang lain. Bahkan sering kali anda sendiri merasakan bagaimana rasanya tidak dipedulikan, ada beberapa saat orang sangat ingin didengarkan, pada masa terpuruk, kita membutuhkan seorang pendengar yang begitu mengerti akan perasaan kita.  Mungkin bagi beberapa orang yang mampu mengatasinya itu bukan hal sulit. Tapi, tentu baik kepribadian atau psikologis setiap orang itu berbeda.

            Berikut ini adalah beberapa manfaat mempelajari ilmu psikologi :
  1. Mengetahui keadaan emosi pada manusia.
  2.  Mendapat ilmu baru.
  3. Dapat mudah menyesuaikan diri pada lingkungan baru.
  4. Membentuk kepribadian seseorang.
  5.   Problem solving atau jalan keluar dalam menyelesaikan masalah.
  6. Meningkatkan rasa empati pada manusia lain.
  7. Pemahaman diri, ini tentu sangat penting.
  8. Sebagai sarana untuk menghibur diri.
  9.  Memiliki pemahaman yang positif.
  10.  Mengatasi permasalahan sosial.

Selain itu, kita bisa menggunakan ilmu psikologi yang kita miliki ini untuk membantu orang lain. Banyak di luar sana yang begitu menginginkan mendapat penyelesaian masalah, dan kita akan datang kepada mereka dengan mengulurkan tangan sebagai tanda rasa peduli kita.
Bagaimana? tertarik? 


KENALI CORONA DAN LAKUKAN PENCEGAHAN Virus Corona atau  severe acute respiratory syndrome   coronavirus 2  (SARS-CoV-2) adalah virus ...