GANGGUAN PSIKOLOGI YANG BISA SAJA KITA ALAMI
Nah, teman-teman semua... kali ini saya akan menyampaikan beberapa gangguan psikologis nih. Keadaan ini sebenarnya sulit untuk kita sadari, hal ini berada di luar kendali kita. Berikut ini diagnosis gangguan psikologi secara umum :
1. Gangguan Panik
Hal ini ditandai dengan serangan panik yang merupakan manifestasi fisik dari rasa takut. Gangguan panik dapat terjadi setiap saat. Gangguan panik bisa diobati dengan terapi perilaku kognitif. Meskipun, beberapa orang memerlukan obat-obatan untuk membantu mengendalikan serangan panik mereka.
Gejala Gangguan Panik
Gejala gangguan ini umumnya mulai dialami di akhir masa remaja atau di awal usia dewasa. Dan ada lebih banyak wanita yang mengidap gangguan ini dibandingkan pria. Namun, tidak setiap orang yang mengalami serangan panik akan mengembangkan gangguan panik. Seseorang mungkin memiliki gangguan panik jika sering mengalami serangan panik di waktu yang tidak terduga dan tanpa pemicu yang jelas.
Penyebab Gangguan Panik
Dalam beberapa kasus, gangguan panik dicurigai diturunkan secara genetik. Namun, belum ada penelitian yang mampu membuktikan kenapa gangguan ini bisa diturunkan pada salah satu atau beberapa anggota keluarga saja, tetapi tidak pada anggota keluarga yang lainnya.
Penelitian menemukan bahwa terdapat bagian otak tertentu dan proses biologi yang memegang peranan kunci dalam mengatur perasaan takut dan kecemasan. Beberapa ahli menilai, pengidap gangguan panik memiliki kekeliruan dalam menginterpretasikan gerakan atau sensasi tubuh yang sebenarnya tidak membahayakan, namun dianggap sebagai suatu ancaman. Selain itu, faktor dari luar seperti faktor lingkungan juga dianggap menjadi pemicu gangguan panik.
Faktor Risiko Gangguan Panik
Berikut ini faktor-faktor risiko yang dapat menjadi pemicu gangguan panik:
- Stres merupakan pemicu paling utama;
- Riwayat kesehatan keluarga;
- Kejadian traumatis yang pernah dialami, seperti kecelakaan atau sakit keras;
- Perubahan drastis dalam hidup, seperti bercerai atau memiliki anak;
- Mengonsumsi kafein dan nikotin yang terlalu berlebihan; dan
- Riwayat mengalami kekerasan fisik atau seksual.
Diagnosis Gangguan Panik
Diagnosis gangguan panik, seperti yang tertulis di dalam Buku Manual Diagnosis dan Statistik dari Gangguan Mental (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder/DSM-5), penting untuk mengenyampingkan penyebab lain atau kondisi-kondisi yang mirip dengan gangguan panik. Menurut DSM-5, dalam mendiagnosis gangguan panik, terdapat beberapa poin penting yang berupa:
- Gangguan panik ditandai dengan serangan panik yang cukup sering terjadi.
- Gangguan panik dengan serangan panik yang bukan disebabkan efek pemakaian obat-obatan ataupun karena penyakit.
- Gangguan panik tidak berhubungan dengan dengan gangguan mental lainnya, seperti fobia tertentu seperti fobia sosial, gangguan kecemasan, post-traumatic stress disorder, hingga gangguan obsesif kompulsif.
Untuk diagnosis awal, dokter akan memastikan apakah seseorang mengidap gangguan hormon tiroid atau penyakit jantung dari gejala-gejala yang timbul saat serangan panik. Untuk membantu menegakkan diagnosis gangguan panik, dokter akan melakukan pemeriksaan berupa:
- Pengisian kuesioner atau diskusi mengenai riwayat penyalahgunaan minuman beralkohol atau zat-zat lainnya.
- Evaluasi status mental mengenai gejala-gejala gangguan panik yang sedang dialami, kecemasan, ketakutan, stres, masalah pribadi, kondisi yang sedang menimpa, serta riwayat kesehatan.
- Pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
- Tes darah untuk mengecek fungsi tiroid dan pemeriksaan rekam jantung (elektrokardiografi).
Komplikasi
Pada gangguan panik yang tidak tertangani dengan baik, akan membuat kondisi pengidap makin memburuk dan menimbulkan sejumlah masalah lain, seperti depresi, kecanduan alkohol atau penyalahgunaan NAPZA, menjadi antisosial, serta timbul masalah di sekolah atau tempat kerja, hingga masalah keuangan.
Pengobatan Gangguan Panik
Cara terbaik untuk mengatasi gangguan panik adalah dengan perawatan medis oleh dokter atau ahli kesehatan mental. Temui dokter yang sudah berpengalaman menangani masalah serupa. Beritahukan apa saja gejala yang pengidap rasakan.
Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan dan bertanya tentang riwayat kesehatan untuk memastikan apakah ada penyakit yang mungkin jadi penyebab dari gejala gangguan panik itu. Apabila tidak ditemukan penyakit atau masalah kesehatan yang terkait, beliau mungkin akan merujuk pengidap kepada seorang ahli kesehatan mental, seperti psikiater atau psikolog.
Cara mengatasi gangguan panik biasanya melalui psikoterapi, konsumsi obat, atau keduanya. diskusikanlah dengan dokter untuk menemukan perawatan yang terbaik sesuai kondisi.
Pencegahan Gangguan Panik
Belum ada cara yang secara signifikan dapat mencegah terjadinya gangguan panik. Namun, ada beberapa tindakan yang bisa kita lakukan untuk mengurangi gejala-gejala yang terjadi. Di antaranya:
- Hindari jenis-jenis makanan atau minuman manis, mengandung kafein, atau beralkohol;
- Berhenti merokok dan tidak menyalahgunakan NAPZA;
- Melakukan aktivitas menyehatkan, seperti berolahraga;
- Mencukupi kebutuhan tidur dan istirahat;
- Latihan manajemen stres dan teknik relaksasi, misalnya dengan melakukan teknik pernapasan dalam dan panjang, yoga, atau melemaskan otot-otot; dan
- Bergabung bersama komunitas yang memiliki permasalahan yang sama. Hal ini untuk menciptakan kesadaran, pemahaman, hingga membiasakan diri untuk menangani kepanikan.
2. Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah istilah umum yang mencakup berbagai gangguan mental, termasuk gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca-trauma, dan gangguan kecemasan umum. Gangguan obsesif kompulsif ditandai dengan pikiran yang berulang dan tindakan berulang yang sering dilakukan untuk kontrol diri. Bila parah, gangguan obsesif kompulsif dapat mendominasi kehidupan seseorang. Gangguan stres pasca-trauma , terjadi setelah pengalaman mengerikan. Paling sering dikaitkan dengan veteran perang; gangguan stres pasca-trauma juga terjadi pada orang yang telah hidup melalui bencana alam, kecelakaan yang mengerikan, serta pengalaman yang sangat traumatis lainnya. Gangguan kecemasan umum adalah penyakit kecemasan lain dan didiagnosis 6 bulan merasa khawatir yang berlebihan dan stres. Semua gangguan kecemasan ini dapat disembuhkan, tetapi memerlukan terapi intensif tergantung pada keparahan.
Gejala Gangguan Kecemasan Umum
Gangguan kecemasan umum memiliki gejala yang sangat beragam. Gejala dari kondisi ini bisa memengaruhi penderitanya, baik secara psikologis maupun fisik. Beberapa gejala yang berkaitan dengan psikologis di antaranya adalah:
- Senantiasa cemas, bahkan untuk hal sepele.
- Resah dan tidak bisa tenang.
- Ketakutan, terutama dalam memutuskan sesuatu.
- Selalu tegang.
- Uring-uringan.
- Sulit konsentrasi.
Sedangkan gejala yang berkaitan dengan kesehatan fisik meliputi:
- Kelelahan.
- Sakit kepala.
- Mual.
- Diare.
- Sakit perut.
- Otot-otot yang nyeri akibat selalu tegang.
- Detak jantung yang cepat.
- Gemetaran.
- Mulut kering.
- Napas pendek.
- Mudah terkejut.
- Keringat berlebihan.
- Insomnia
Rasa cemas merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada semua orang. Namun apabila seseorang selalu mengkhawatirkan segala sesuatu dan kecemasannya tidak kunjung hilang sampai berdampak pada kehidupannya sehari-hari, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter agar dapat ditangani dengan tepat.
Faktor Risiko Gangguan Kecemasan Umum
Penyebab di balik gangguan kecemasan umum belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Para pakar menduga kondisi ini dapat terjadi akibat kombinasi dari sejumlah faktor, contohnya:
- Pernah mengalami trauma, misalnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta perundungan (bullying).
- Adanya aktivitas berlebihan dari bagian otak yang mengendalikan emosi dan tingkah laku.
- Senyawa serotonin dan noradrenalin yang tidak seimbang dalam otak penderita.
- Faktor keturunan. Orang yang memiliki kerabat dekat dengan gangguan kecemasan umum memiliki risiko 5 kali lebih besar untuk mengalami kondisi sejenis.
- Jenis kelamin. Wanita juga dipercaya lebih rentan untuk menderita gangguan ini.
- Pernah menggunakan obat-obatan terlarang atau mengonsumsi minuman keras.
Diagnosis Gangguan Kecemasan Umum
Gangguan kecemasan umum biasanya sulit dikenali, terutama karena gejalanya yang cenderung mirip dengan gangguan psikologis lain. Karena itu, banyak pakar menggunakan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) guna mendiagnosis gangguan ini. Kriteria DSM-5 untuk gangguan kecemasan meliputi:
- Hampir setiap hari mengalami kecemasan berlebihan dalam jangka waktu setidaknya 6 bulan.
- Sulit mengendalikan perasaan cemas.
- Rasa cemas yang mendominasi dan memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan.
- Mengalami 3 gejala di antara uring-uringan, kelelahan, gelisah, otot tegang, atau insomnia bagi orang dewasa, dan 1 di antara gejala-gejala tersebut bagi anak-anak.
- Kecemasan yang tidak berkaitan dengan kondisi psikologis lain (seperti PTSD atau serangan panik), penyakit tertentu, maupun penggunaan obat-obatan terlarang.
Pengobatan Gangguan Kecemasan Umum
Terdapat 2 langkah utama dalam menangani gangguan kecemasan umum, yaitu melalui terapi psikologis dan obat-obatan. Kedua langkah ini biasanya akan dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan pasien.
Terapi perilaku kognitif (CBT) merupakan metode yang paling efektif dalam menangani gangguan kecemasan umum. Melalui terapi ini, penderita akan mengenali dan memahami dampak masalah, perasaan, dan perilakunya terhadap satu sama lain. Teknik-teknik khusus untuk mengatasi kecemasan juga akan diajarkan dalam CBT, misalnya teknik merelaksasikan otot yang tegang dengan cepat saat berada dalam situasi pemicu kecemasan.
Di samping terapi, obat-obatan mungkin dianjurkan guna mengobati gangguan kecemasan umum. Diskusikanlah dengan dokter mengenai jenis obat yang cocok untuk kondisi Anda, contohnya durasi pengobatan yang akan dijalani serta efek sampingnya. Beberapa jenis obat yang biasanya diberikan meliputi:
- Antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) atau serotonin and noradrenaline reuptake inhibitor (SNRI). Ini merupakan obat yang paling umum dalam pengobatan gangguan kecemasan umum.
- Pregabalin. Obat ini tergolong sebagai antikonvulsan yang biasanya digunakan untuk menangani epilepsi.
- Benzodiazepine. Obat yang masuk ke dalam golongan sedatif ini sebaiknya dihindari oleh pasien yang mengonsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang.
Selain dengan penanganan medis, penderita gangguan kecemasan umum bisa melakukan hal-hal berikut secara mandiri untuk meringankan gejala yang dialaminya:
- Berolahraga dengan teratur.
- Melakukan teknik relaksasi, seperti yoga.
- Menghindari kafein, merokok, dan konsumsi minuman keras.
Gangguan bipolar adalah penyakit mental yang dapat mengganggu kehidupan penderita dan dapat merusak hubungan. Salah satu gejala khas dari gangguan ini adalah perubahan suasana hati pada titik ekstrim yang terlalu tinggi dan terlalu rendah. Sayangnya, bunuh diri merupakan resiko yang sangat nyata bagi orang-orang dengan gangguan bipolar ketika mereka berada dalam keadaan depresi. Untuk mengobati penyakit ini, obat untuk menstabilkan suasana hati sering dikombinasikan dengan terapi.
Penyebab Gangguan Bipolar
Penyebab pasti terjadinya gangguan bipolar belum diketahui. Namun, terdapat dugaan bahwa gangguan bipolar merupakan dampak dari adanya gangguan pada senyawa alami yang berfungsi menjaga fungsi otak (neurotransmitter). Gangguan pada neurotransmitter itu sendiri diduga dipicu oleh beberapa faktor, seperti:
- Genetik
- Sosial
- Lingkungan
- Fisik
Pengobatan Gangguan Bipolar
Dalam menangani gangguan bipolar, dokter akan menganjurkan penggunaan obat atau terapi khusus. Untuk menentukan metode yang tepat, pasien perlu melakukan pemeriksaan secara langsung ke dokter.
Gangguan bipolar yang tidak mendapatkan penanganan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan penderitanya, seperti:
- Performa di sekolah atau tempat kerja memburuk
- Kecanduan alkohol hingga penyalahgunaan NAPZA
- Rusaknya hubungan sosial, misalnya dengan pasangan, kerabat, atau orang lain
- Permasalahan keuangan (finansial)
- Menimbulkan keinginan hingga percobaan bunuh diri
4. Fobia
Fobia adalah ketakutan yang mengganggu kegiatan sehari-hari dan menyebabkan gejala fisik yang parah. Hal yang menarik tentang fobia adalah orang dapat memiliki fobia tentang apa pun, meskipun beberapa fobia jauh lebih umum daripada yang lain. Salah satu fobia yang lebih umum adalah gangguan kecemasan sosial, dimana orang menjadi takut situasi bersosialisasi sehari-hari. Terapi eksposur sering digunakan untuk membantu orang mengatasi ketakutan mereka.
Penyebab Fobia
Fobia disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Seseorang lebih berisiko mengidap fobia jika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan kecemasan. Peristiwa traumatis, seperti tenggelam, digigit hewan, terjebak dalam lift, dan lainnya juga bisa menyebabkan fobia.
Gejala Fobia
Fobia tak hanya ditandai dengan gejala psikis seperti rasa takut saja, sebab fobia juga bisa menyebabkan pengaruh pada kondisi fisik. Berikut beberapa gejala fisik yang bisa dialami pengidap fobia.
- Disorientasi atau bingung.
- Pusing dan sakit kepala.
- Dada terasa sesak dan nyeri.
- Sesak napas.
- Detak jantung meningkat.
- Tubuh gemetar dan berkeringat.
- Telinga berdengung.
- Sensasi ingin selalu buang air kecil.
- Mulut terasa kering.
Diagnosis Fobia
Untuk mendiagnosis fobia, dokter akan melakukan wawancara medis seputar gejala yang dirasakan oleh pengidapnya. Gejala ini nantinya akan disesuaikan oleh dokter, mengarah atau tidaknya pada kondisi fobia. Di samping itu, untuk menegakkan diagnosisnya, dokter juga akan bertanya seputar riwayat penyakit yang pernah dialami pengidapnya (termasuk penyakit kejiwaan), kehidupan sosial pasien, hingga riwayat pengunaan obat-obatan.
Komplikasi Fobia
Fobia yang tak ditangani dengan efektif bisa menyebabkan beberapa komplikasi pada pengidapnya. Mulai dari mengurung diri (isolasi sosial), perubahan suasana hati yang drastis atau gangguan kecemasan, penyalah gunaan alkohol atau obat, hingga bunuh diri.
Pengobatan Fobia
Untuk mengatasi fobia, biasanya dokter akan menggunakan obat-obatan dan psikoterapi. Psikoterapi bisa berupa terapi eksposur untuk mengubah sudut pandang terhadap subjek atau situasi menakutkan dan cognitive behavioral therapy (CBT) yang menggabungkan terapi eksposur dengan terapi lain. CBT lebih ditekankan pada cara mengendalikan pikiran dan perasaan. Selain itu, pengobatan fobia juga bisa melalui pemberian obat-obatan yang diharapkan mampu mengurangi gejalanya.
Pencegahan Fobia
Sebenarnya belum ada cara yang ampuh untuk mencegah fobia. Namun, bila memiliki fobia spesifik contohnya, cobalah pertimbangkan untuk meminta bantuan ahli psikologis, apalagi jika pengidapnya sudah memiliki anak. Pasalnya, faktor genetika cenderung berperan dalam pengembangan fobia spesifik. Di samping itu, seorang anak yang berulang kali melihat reaksi fobia orangtuanya, bisa terpengaruh atau mengembangkan fobia spesifik pada dirinya.
Nah, hampir setiap orang punya nih. Kalau saya sendiri punya fobia pada laba-laba dan ular. Bagaimana demgam anda?
5. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Orang dengan ADHD mengalami kesulitan fokus dan mengendalikan perilaku mereka. Ini bisa menjadi gangguan yang sangat sulit untuk didiagnosa. Sebelum diagnosis resmi, masalah lain harus disingkirkan terlebih dahulu, seperti penglihatan atau pendengaran. Sementara obat yang sering diresepkan untuk ADHD, terapi perilaku adalah salah satu perawatan yang paling penting. Jenis terapi membantu orang dengan ADHD mempelajari alat-alat yang akan membantu mereka fokus, tetap terorganisir, dan mengendalikan perilaku mereka.
6. Gangguan Mood
Orang dengan gangguan mood cenderung melihat sesuatu dari perspektif yang sangat suram. Salah satu gangguan mood yang paling sering didiagnosis adalah depresi. Orang yang mengalami depresi memiliki perasaan sedih yang terus-menerus dan putus asa, dan mereka cenderung kehilangan minat dalam hidup. Tergantung pada tingkat keparahan, depresi bisa sangat melemahkan dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Namun, ini bisa diobati, khususnya melalui terapi dengan kebutuhan yang memungkinkan untuk pengobatan pada kasus yang berat.
7. Gangguan Kepribadian
Salah satu gangguan lainnya adalah gangguan kepribadian avoidant, yang ditandai dengan kecemasan, takut akan kritik, dan menjadi ragu-ragu untuk terlibat dengan orang lain. Gangguan kepribadian borderline adalah diagnosis lain. Orang dengan gangguan kepribadian ini bisa sangat tidak stabil dan impulsif. Mereka juga cenderung membuat ancaman atau usaha bunuh diri, yang membuat gangguan ini sangat serius untuk ditangani. Gangguan kepribadian sering terjadi dengan penyakit mental lainnya, yang membuat mereka sangat sulit untuk didiagnosa dan diobati.
Gangguan kepribadian dibagi menjadi tiga kelompok:
- Kelompok A adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan keanehan atau keesentrikan perilaku seseorang. Kata kunci utamanya adalah fantasi—yaitu, penderitanya cenderung membentuk dunia atau situasi yang jauh dari realita. Beberapa gangguan yang berada pada kelompok A adalah paranoia, skizofrenia, dan skizotipal. Karena penderitanya memiliki keyakinannya sendiri dan hidup pada dunia ynag berbeda dari kenyataan, yang pada akhirnya mereka sulit untuk membentuk suatu hubungan.
- Kelompok B merujuk pada gangguan kepribadian yang ditandai dengan kesulitan dalam mengendalikan perasaannya sendiri. Oleh karena itu perilaku mereka tidak dapat diprediksi, dan kurangnya pengedendalian perasaan mereka terkadang dapat membuat mereka merespon secara berlebihan ketimbang orang lain dalam situasi tertentu. Contohnya adalah orang-orang yang antisosial dan narsis.
- Kelompok C merujuk pada gangguan kepribadian yang ditandai dengan peningkatan perasaan, ketakutan, dan kecemasan, yang mengambil kendali atas emosi, pikiran, dan perilaku mereka sendiri. Contohnya adalah orang yang suka menghindar, mengalami gangguan obsesif kompulsif, dan terlalu bergantung.
Penyebab Kondisi Gangguan Kepribadian
Tidak jelas bagaimana gangguan kepribadian muncul pada sebagian orang, namun ada banyak teori berkaitan dengan hali ini.
Pertama, penderitanya mungkin telah mengalami suatu peristiwa dalam hidupnya yang mengubah hidupnya, menimbulkan trauma, atau sangat berpengaruh. Peristiwa ini biasanya dialami pada saat penderitanya masih muda karena kepribadian mulai berkembang pada usia dini. Misalnya, seseorang yang telah ditinggalkan oleh orang tuanya mungkin akhirnya memiliki gangguan kepribadian terlalu bergantung atau kebutuhan ekstrim untuk mendapatkan cinta dan perhatian. Penderitanya takut merasa ditinggalkan dan dengan demikian akan sering melakukan apapun untuk menjaga orang di sekitarnya, termasuk terlalu patuh pada pasangannya.
Teori lainnya adalah genetika mungkin memiliki peran besar. Misalnya, banyak penelitian menghubungkan gejala skizofrenia dengan genetika. Orang yang memiliki kerabat tingkat pertama yang didiagnosis dengan gangguan ini memiliki 55% risiko lebih besar daripada masyarakat pada umumnya. Sementara itu, setidaknya setengah kasus depresi klinik berkaitan dengan faktor keturunan.
Gen dapat mempengaruhi cara otak bekerja. Gen mungkin mencegah pengiriman informasi yang tepat, yang kemudian menghasilkan ide, pikiran, atau perilaku seseorang yang berbelit-belit.
Namun, memiliki kerabat dengan gangguan menta atau kepribadian tidak berarti orang tersebut juga akan memiliki gangguan tersebut. Namun kemungkinannya akan tetap tinggi.
Gejala Utama Gangguan Kepribadian
Gejala gangguan kepribadian dapat bervariasi tergantung pada kelompoknya atau masalah mental tertentu. Beberapa gejala umumnya termasuk:
- Merasa takut dan cemas secara berlebih
- Obsesi lebih pada objek, peristiwa, atau orang tertentu
- Paksaan untuk melakukan sesuatu berulang-ulang atau bahkan melawan keinginan sendiri
- Merasa tidak berharga dan rasa bersalah
- Tingkat stres yang tinggi
- Ketidakmampuan mengatasi stres
- Kesulitan dalam memahami kepribadian orang lain
- Merasa tidak layak dalam pergaulan sosial (menyendiri atau menarik diri)
- Berisiko menyakiti diri sendiri termasuk melukai tubuh dan bunuh diri
- Mudah marah yang tidak terkontrol atau tidak masuk akal
- Terlalu tergantung pada orang lain
- Kesulitan dalam menerima kritik atau saran
- Perilaku yang eksentrik
- Paranoid
Beberapa orang menunjukan gejala gangguan kepribadian yang sangat ringan, sehingga sulit bagi mereka untuk mendapatkan diagnosis. Di sisi lain, sebagian orang lainnya memiliki tanda ekstrim hingga mereka terkadang dapat menjadi ancaman bagi diri mereka sendiri dan orang lain.
Stres umumnya dapat memperburuk gejala gangguan kepribadian. Umumnya pasien juga memiliki gangguan mental yang kompleks. Misalnya, orang dengan gangguan kepribadian avoidant atau suka menghindar dapat didiagnosis dengan depresi.
Apakah kalian sedang mengalami salah satu dari gangguan tersebut? Atau pernah mengalami? Aku berharap apa yang saya sampaikan dapat berguna bagi anda.
Bermanfaat banget eonnie ilmunyaaa...huwaaa jadi kita bisa lebih tau banyak ilmu yang kita sendiri kurang pedulikaaan... gomawo😀😊🙇
BalasHapusMantabb
BalasHapusBagus Sal. Lanjuttttt.....!Baiik buat kesadaran akan diri masing"😊😊 #JPP
BalasHapusgood
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapus